HITAM dan PUTIH
( Bagian 2 )

“Selamat pagi semua!” sapa seorang gadis berambut hitam dan panjang, kontras dengan dress chiffon warna putih yang dipakainya. Kulitnya kekuningan bak buah langsat yang ranum, wajahnya ayu dengan senyuman yang manis, alisnya melengkung indah dengan manik mata yang hitam bersinar bagai berlian, Berlian Hitam.
Semua mata memandangnya , Niel yang memang tidak siap dengan kejutan itu membelalakkan matanya. Chand tersenyum, wajah pucatnya kini berseri seri menatap gadis manis itu. Nyonya Cho orang pertama yang menyambutnya, ia berdiri dan termangu sesaat seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ca_Cahaya,,” ucapnya. Gadis itu tersenyum.
“Nyonya Cho, apa kabar?”. Nyonya Cho tak menjawab. Dengan gemetar, dimembelai pipi gadis itu dan langsung memeluknya dengan airmata yang tertahan. Ingin rasanya ia menumpahkan semuanya. Melepaskan beban berat dihatinya jika saja, jika saja,,,
Tuan Cho berdehem untuk menghentikan sebuah drama melankolis dihadapannya. Nyonya Cho tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Ia mempersilahkan gadis itu untuk duduk disampingnya, dihadapan Niel yang masih menatapnya tak percaya.
“Cahaya Gunawan, senang bisa bertemu denganmu lagi. Kuharap kau juga senang berada disini dan aku tidak menyangka, kau tumbuh menjadi gadis secantik ini. Kau tahu, kau begitu mirip,,,” Tuan Cho menghentikan kata katanya , melirik kearah Niel sambil mengangkat sedikit sudut bibirnya “Ibumu,,” lanjutnya kemudian. kata katanya memang ditujukan untuk Aya namun tatapan matanya mengisyaratkan jika kata itu juga berlaku bagi Niel.
“Oh ya, akan kuperkenalkan padamu semua anggota keluargaku. Perempuan cantik yang duduk disebelahmu adalah Jane, istri dari putra kesayanganku Chand”
Niel melirik sekilas kearah Tuan Cho saat ia mengatakan ‘putra kesayangan’. Niel tahu jika pria jahat itu hanya ingin menyindirnya. Sedangkan orang yang sedang dibicarakan justru tersenyum tanpa beban, yang semakin membuat Niel merasa muak.
“Dan, kau tahu siapa pemuda dihadapanmu saat ini?” lanjut Tuan Cho. Cahaya reflek mengarahkan pandangannya kedepan, mata mereka bertemu untuk pertama kalinya.
“Dia adalah,, Niel. Kakak tirimu yang hilang 20 tahun yang lalu”
Aya membulatkan matanya, ia tidak mengira akan mendapat kejutan secepat ini. Bibirnya bergetar, berusaha merangkai kata untuk mengatakan sesuatu. Tapi lidahnya begitu sulit untuk bergerak, sekedar untuk mengucapkan kata ‘Hai’. Saat Aya mulai menguasai dirinya, kejadian tak terduga justru terjadi. Niel meninggalkan kursinya begitu saja, tanpa mengucapkan apapun dan tanpa persetujuan siapapun.
# # #
            Aya mendorong pintu itu perlahan, kamar sederhana yang serba putih itu sungguh menyejukkan hatinya. Ia membanting tubuhnya keatas kasur yang lagi lagi bewarna putih dengan motif mawar merah dibeberapa bagian. Aya menghela napasnya, menatap langit langit kamarnya sambil mengingat sesuatu.
            “Ibumu memang mengaku kalau dirinya seorang janda dengan seorang anak. Putranya yang berusia 6 tahun itu menghilang saat ia masih bekerja diluar negeri. Tapi sebuah fakta terungkap saat malam pertamanya bersama ayahmu. Ibumu berdarah, darah yang tidak seharusnya dialami oleh seorang wanita yang pernah menikah, bahkan sampai mempunyai anak. Ibumu menyimpan banyak misteri dimasa lalunya, masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapapun bahkan pada ayahmu”
            “Tante mohon padamu untuk selalu berhati hati disana. Mungkin akan banyak rahasia yang terungkap, tapi kau harus tetap waspada karna mungkin menimbulkan sebuah resiko. Kali terakhir ayah dan ibumu kesana untuk tujuan yang sama denganmu, dan kau sudah tahu akibatnya kan? nyawalah yang menjadi taruhannya!.”
            Aya menghela napasnya lagi, untuk menenangkan pikirannya. Badannya terlalu lelah untuk mengikuti perintah otaknya. Ia memiringkan posisi tubuhnya untuk mencari kenyamanan dalam dirinya untuk menghapus penat yang menghantuinya.
            “Aku sudah sampai,, Ayah Ibu doakan aku!”. Tak berapa lama matanya terpejam. Aya tertidur dalam kedamaian. Bibirnya menyunggingkan senyum, membayangkan belaian dan dekapan dari ibunya.
# # #
            “Hei, apa kau sudah melihat wajah gadis itu?” bisik seorang pelayan kepada pelayan disebelahnya.
            “Gadis siapa maksudmu?” sahut temannya dengan suara yang tidak pelan. Pelayan itu gelagapan memandang sekitar, takut takut jika ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Ia lalu mengajak temannya berbicara ditempat yang tersembunyi diantara pilar pilar besar yang kokoh.
            “Apa kau gila!, jika ada yang mendengarnya bagaimana. Pelankan suaramu, jika tidak ingin mati sia sia” temannya akhirnya mengangguk mengerti. “maksudku, gadis yang baru datang tadi pagi. Yang aku dengar, wajahnya sangat mirip dengan ibunya”
            “Memangnya kenapa, bukannya wajar jika seorang anak perempuan mirip dengan ibunya?”
            “Ah, kau ini bodoh atau apa? Apa kau tidak mendengar beritanya, bahwa Tuan Niel dan gadis itu adalah saudara tiri?” temannya menggeleng tak  percaya membuat pelayan itu mendecah tak karuan. “Kalau menurut pendapatku ya, aku tidak percaya kalau mereka itu punya hubungan darah tapi kalau tentang Tuan Cho dan Niel, mereka itu laksana buah pinang dibelah dua tidak ada bedanya. Aku sudah membuktikannya sendiri dan itu memang sudah dibuktikan secara medis kalau Tuan Chand dan Niel itu adalah saudara”.
            “Lalu apa alasanmu kalau gadis itu bukan saudara Tuan Niel?” temannya mulai terhanyut dengan pembicaraan hangat itu. Pelayan muda itu semakin mendekatkan badannya sambil terus mengawasi situasi.
            “Karna dari berita yang aku dapat dari orang yang pernah bekerja disini saat Tuan Chand dan Niel masih kecil, katanya ia tidak sengaja mendengar Tuan chand mengatakan bahwa Niel bukanlah anak dari pengasuhnya”.
            “Pengasuh?”
            “Iya, ibu gadis itu adalah mantan pengasuh Tuan Chand!”
            “Itu berarti,,,”
            “Kalian sedang membicarakan apa?”
            Mendadak keduanya terperanjat mendengar suara dari arah belakang mereka. Sesaat keduanya membisu dengan tangan gemetar lalu menoleh kesumber suara itu, hampir bersamaan.
            “Nyo_Nyonya Jane,,,” sahut mereka sambil menelan ludah. belum sempat Jane mengatakan sesuatu kepada dua pelayan itu, Nyonya Cho datang menghampiri mereka.
            “Ada apa Jane?”
            “Tidak apa apa Bu, aku hanya sedang menegur mereka karna bukannya bekerja malah asyik mengobrol disini”
            Nyonya Cho mengerti, ia akhirnya mempersilahkan kedua pelayan itu kembali bekerja untuk menyiapkan makan siang. Dan Jane seperti tidak rela melepas kepergian mereka begitu saja.
            “Oh ya Jane, menurut dokter kapan operasinya akan dilakukan?” Nyonya Cho mengalihkan perhatiannya.
            “Jika keduanya telah siap dan tidak ada masalah, mungkin besok bisa dilakukan operasi”
            “Benarkah, kalau begitu aku akan kekamar Niel untuk memberitahunya” Nyonya Cho melangkah dengan antusias sebelum panggilan Jane menghentikannya.
            “Kalau boleh, biar aku saja yang memberitahunya” Nyonya Cho terdiam sebelum akhirnya mengangguk menyeyujui permintaan Jane.
# # #
            Jane mengetuk pintu kamar Niel, namun pintu itu belum juga terbuka. Ia ketuk sekali lagi, masih saja hening. Lama ia menunggu didepan pintu itu, sampai akhirnya ia hampir menyerah jika saja ia tak mendengar suara pintu terbuka.
            “Jane!”
Jane tersenyum menghampiri pria diambang pintu itu. Ada yang berbeda, Niel tidak terlihat seperti biasanya dan Jane menyadari hal itu.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, ini tentang Chand”. Niel seakan paham maksud arah pembicaraan yang dimaksud Jane. Iapun membuka pintu kamarnya lebih lebar.
“Masuklah!”. Jane memasuki kamar Niel dan langsung menyapukan pandangannya keseluruh ruangan. Hari masing siang, namun kamar itu penuh kegelapan. Niel duduk disofa panjang yang sebenarnya bewarna merah, namun tetap menjadi hitam dalam keremangan.
“Kenapa berdiri saja, duduklah” pinta Niel
“Aku hampir tidak melihatmu, kenapa kau tidak membuka jendelanya?” Jane beranjak menuju jendela dan menyibakkan tirainya, sedikit demi sedikit cahaya mulai memasuki kekamar itu.
“Jangan!, aku suka kegelapan”. Jane menggigit bibir bawahnya mendengar permintaan Niel. Akhirnya ia menutup kembali tirai itu lalu duduk disamping Niel.
“Apa kau seorang vampire”
“Kalau iya, apa kau takut” Niel mencoba untuk tersenyum menanggapi pertanyaan Jane namun sorot matanya menunjukkan sebaliknya.
“Sedikit” Jane memandang Niel, lebih dalam membaca apa yang tersimpan dalam mata tajam namun indah itu. Mencoba menguak rahasia tersembunyi dalam diri pria yang menyukai kegelapan. Ya, disana hanya ada kegelapan dan Jane tidak dapat membuka pintu hitam itu.
“Oh ya, kata dokter besok operasinya sudah bisa dilakukan. Apa kau siap?” Jane mengalihkan pandangannya, sebelum ia tersesat semakin dalam. Niel masih menatapnya dan semakin mendekatkan posisinya.
“Jangan kuatir, aku baik baik saja”
“Tapi sepertinya, kau sedikit kacau” Jane menantang kembali mata elang milik Niel. “Apa karna gadis itu,,,”. Raut wajah Niel seketika berubah, ia memundurkan kembali posisinya. “Bagaimana perasaanmu?” Jane bertanya lagi dengan intonasi sehalus mungkin, bahkan lebih terdengar seperti perhatian.
“Aku bilang aku baik baik saja. Kau takut operasinya batal sehingga akan berakibat fatal pada Chandmu?”
“Bukan, maksudku perasaanmu mengenai kenyataan tentang asal usulmu. Bahwa Chand terrnyata adalah kakak tirimu dan gadis itu adalah adik tirimu. Kalian seibu, dan sepertinya kau sulit menerimanya. Itu terlihat dari reaksimu tadi pagi”. Niel tersenyum melirik kearah pemilik mata biru shapire itu lagi, mengajaknya mencari sendiri jawaban atas pertanyaannya melalui tatapan mata. Sesaat, Jane seperti terhanyut kembali pada pandangan itu namun ia berusaha untuk tetap fokus
 “Apa kau teringat dengan ibumu?” Jane mencoba memancing Niel lagi.
“Memangnya apa yang kau tahu tentang ibuku?” Niel memalingkan wajahnya sambil menyilangkan sebelah kakinya
“Entahlah, kabar yang beredar mengatakan bahwa ibumu dan Tuan Cho punya hubungan terlarang. Itulah sebabnya kau,, ada”. Akhirnya Niel menunjukkan senyum sinisnya.
“Apakah itu yang mereka katakan? benar benar menjijikkan!” desisnya.
Jane sedikit terkejut melihat perubahan Niel. Pria itu memang dingin tapi kali lebih menakutkan. Jane sedikit ragu untuk menanggapi pernyataan Niel dan akhirnya ia memutuskan untuk menghindar dari situasi yang tidak menguntungkan itu.
“A_aku harus kembali, Chand pasti sedang mencariku” Jane bangkit duduknya, diikuti Niel yang menyusulnya. Jane sampai didepan pintu, tangannya sudah hampir meraih gagang pintu sebelum suara Niel menghentikannya. Jane semakin terkejut.
“Biar aku saja” Niel membukakan pintunyu sambil menyunggingkan senyum dan seketika senyumnya lenyap melihat sesuatu didepan matanya. Ia segera menutup pintunya kembali sebelum Jane sempat melangkahkan kakinya.
“Kenapa?”
“Tidak ada, hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan” kilah Niel
“Apa maksudmu, aku harus kembali. Chand membutuhkanku!” Jane mencoba membuka pintunya namun terhalang tubuh Niel yang menghadangnya. Jane mulai panik.“Niel, aku adalah kakak iparmu jadi kumohon jangan kurang ajar” Jane sudah diambang batas kesabarannya. Niel hanya menanggapinya dengan senyuman. Akhirnya ia membuka kembali pintunya, dan Jane sedikit tergesa keluar dari pintu itu. Rahangnya mengeras menahan marah.
“Baby sitter yang malang!” desis Niel menatap kepergian Jane. Ekor matanya beralih menatap lurus kedepan, kesebuah kamar dengan pintu yang terbuka. Mendadak sorot matanya berubah ketika menangkap sosok yang juga tengah menatapnya.
# # #
            “Cahaya!” Aya mengalihkan perhatiannya sejenak mendengar panggilan itu.
            “Panggil saja Aya, lebih gampang” sahutnya tersenyum sumringah. Ia menatap keluar jendela lagi, tapi sosok yang dicarinya telah menghilang.
            “Maaf mengganggu. Kau pasti masih lelah”
            “Tidak apa apa. aku justru senang mendapat kunjungan” Aya masih sibuk membuka tirai jendela kamarnya. Ia ingin semuanya terbuka, agar kamarnya seterang namanya. Baru setelah itu, ia segera duduk menghampiri tamunya.
            “Apa ada yang bisa kubantu Kak?”. Chand tersenyum menanggapi pertanyaan itu.
            “Kau gadis yang sangat ceria dan sepertinya menyenangkan jika mengobrol denganmu”
            “Apa aku mirip ibuku?” Aya memulai menjalankan misinya. Chand terdiam sejenak, kepalanya menunduk menatap lantai putih kamar Aya.
            “Ibumu orang yang sangat menyenangkan, lembut dan hangat. Dia sangat sabar menghadapi anak nakal sepertiku” Chand tertawa kecil mengingat masa kecilnya. Aya tidak ingin menanggapi, ia membiarkan Chand melanjutkan ceritanya agar lebih banyak lagi yang ia tahu tentang ibunya.
           
           
            “Waktu kecil aku tidak mau lepas darinya, dia sudah seperti ibuku sendiri. Itulah yang membuat Aku dan Niel selalu bertengkar memperebutkannya”. Mendengar nama Niel, Aya teringat kejadian tadi pagi. Mendadak, suasana menjadi hening.
            “Lalu, siapa yang menang?” pancing Aya
            “Aku”
            “Bagaimana dengan Kak Niel, dia pasti menangis”
            “Tidak. Dia anak yang tidak pernah menangis, bahkan saat aku memukulnya. Dia selalu mengalah, dan selalu baik padaku tapi aku selalu memperlakukannya dengan buruk. Dia, tidak pernah punya mainan, Niel hanya bernain dengan mainanku yang telah rusak atau memang sengaja aku rusak karna setiap ibumu membelikannya mainan, aku selalu merebutnya. Tapi, dia tidak pernah marah, ibumu mendidiknya dengan sangat baik”. Chand menghela napasnya sejenak.
            “Aku berbuat jahat pada sendiri dan sekarang Tuhan telah menghukumku dengan penyakit ini”. Chand mencoba tersenyum, membentuk lesung pada kedua pipinya. Aya memandangnya dengan iba. “Sekarang apa yang harus aku lakukan. Setelah semua yang telah aku lakukan padanya dulu, sekarang dia kembali dengan sebuah pertolongan untuk menjadi pendonor. Jujur, aku, sangat takut!” Chand mengatakannya dengan bibir bergetar, Aya melihat dengan jelas ketakutan itu tapi ketakutan tentang apa?
            “Dia telah berubah. Aku melihat kebencian dimatanya, aku takut dia membawa dendam kerumah ini dan menghancurkan segalanya. Jika itu terjadi, akulah yang harus disalahkan. Akulah penyebab semuanya, aku!”. Tiba tiba darah merembes dari hidungnya. Aya panik, tapi segera bertindak. Ia teringat masih punya beberapa lembar tissu didalam tasnya, mengambilnya lalu mengulurkannya pada Chand. “Jangan khawatir, ini biasa terjadi” Chand masih bisa tersenyum sebelum membersihkan darahnya yang terus keluar. Wajahnya memucat, Aya merasa sesuatu yang lebih buruk akan terjadi jika dia tidak segera berbuat sesuatu.
            “Ayo kak, aku antar kekamarmu. Mungkin kau harus minum obat untuk menghentikan pendarahannya”. Aya membantu Chand bangkit dari duduknya lalu memapahnya keluar. Baru setengah perjalanan melewati koridor panjang itu, Chand sudah tidak sanggup menggerakkan kakinya. Ia rubuh bersama Aya yang tidak siap dengan kejadian itu. Aya mencoba memapahnya kembali, ia melingkarkan tangan Chand dibelakang kepalanya lalu mengangkatnya ke bangku kayu ditengah koridor itu. Baru saja Aya mendudukannya, Chand muntah darah hingga menyiprat kebajunya. Baju yang baru saja ia pakai itu kini penuh dengan bercak darah. Chand semakin melemah, Aya membantu merebahkan kepalanya kesisi bangku dan segera meminta bantuan.
            Aya mengetuk pintu itu berkali kali sambil memanggil nama sang pemilik kamar itu. Akhirnya pintu terbuka, Niel sedikit terkejut mengetahui Aya yang mengetuk pintu. Ia seperti memohon pertolongan, tapi Niel tidak terlalu memperhatikan kalimat apa yang keluar dari mulut gadis manis itu. Niel hanya mampu mendengarkan irama jantungnya yang kencang saat menatap mata  berlian hitam itu. Ia bahkan sampai memegang dada kirinya untuk menormalkannya kembali.
            “Kak Niel jangan diam saja, kumohon bantu aku!” Aya meronta sambil mengguncang lengan kiri Niel untuk menyadarkannya bahwa saat ini mereka dalam situasi yang genting. Tak tarasa air matanya jatuh, sambil menoleh kearah Chand yang masih berbaring berlumuran darah. Itulah yang membuat Niel tersadar, dia segera berlari kearah Chand. Ia baru menyadari jika Chand berada disana dengan kondisi seperti itu. Aya lega, lalu mengikutinya dibelakang.
 Dengan mudah Niel mengangkat tubuh kurus itu dengan kedua tangannya. Butuh waktu lama untuk sampai ke pintu depan namun Niel melaluinya lebih cepat, Ia setengah berlari sambil membawa tubuh Chand. Keringat bercucuran dipelipisnya dan napasnya mulai tak beraturan. Aya membukakan pintu dan meminta penjaga untuk menyiapkan mobil. Melihat kondisi Tuannya, penjaga itu langsung bergegas sedangkan penjaga lainnya juga mengikuti perintah Aya untuk memberitahukan hal ini pada keluarga Cho. Tak berapa lama mobil datang,  penjaga tadi membantu membuka pintu agar Niel dapat segera masuk sedangkan Aya duduk didepan disamping supir. Setelah pintu ditutup, mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi. Jane yang kebetulan sedang mencari keberadaan Chand tidak sengaja mendengar keributan didepan. Ia menghampiri penjaga untuk bertanya apa yang terjadi.
Bersambung ke Bagian 3,,,,






HITAM dan PUTIH
( Pangeran Kegelapan dan Putri Cahaya )

Aku datang bukan untuk sebuah pengakuan, melainkan kehancuran!
# # #
            “Selamat datang Niel, apakah perjalananmu menyenangkan!” Pria yang baru saja keluar dari mobil itu tersenyum sinis, menanggapi pertanyaan wanita yang datang menyambutnya.
            “Lumayan, Nyo_nya!” Pria itu menekankan kata terakhirnya. Berharap wanita itu mendengarnya dengan jelas atau mungkin hanya ingin melihat reaksi apa yang akan ditunjukkan wanita bermata lembut itu ketika ia memanggilnya.
            “Baiklah, kau pasti lelah. Istirahatlah!” tanpa diduga wanita itu tersenyum lalu menyuruh para pelayannya untuk mengantar Niel ke kamarnya. Tapi Niel masih saja menatap wajah cantik itu, wajah yang masih sama seperti 22 tahun yang lalu. Niel berharap ada sedikit rasa takut pada wajah itu atau setidaknya, rasa waspada terhadap kehadirannya. tapi nihil, wajah itu tetap memancarkan keteduhan yang membuat Niel mendesah frustasi.
            “Teruslah tersenyum, sebelum aku membuatmu menangis!” bisik Niel sambil memamerkan senyum sinisnya, sebelum akhirnya ia melangkah mengikuti pelayan yang menuntunnya memasuki kamar. Setelah kepergian Niel, raut wajah wanita itu sedikit berubah. Ada rasa kekawatiran disana tapi ia mencoba menepisnya dengan menghirup oksigen sebanyak banyaknya kemudian menghembuskannya perlahan seiring rasa takutnya yang coba ia hilangkan
# # #
            Niel sampai didepan pintu kamarnya, para pelayan yang mengikutinya membuka pintu lalu memasukkan semua barang barang Niel kedalam kamarnya. Tapi pandangan Niel justru tertuju kearah sebuah pintu bercat putih yang berada diujung koridor. Sekitar 100 meter dari kamarnya yang saling berhadapan. Seperti terhipnotis, Niel seakan dituntun untuk menuju pintu klasik itu.
Niel melangkah, menyusuri setiap sudut kenangan masa kecilnya, setidaknya masih ada hal hal indah yang masih tertinggal dirumah itu. Ia seperti melihat kenangan itu kembali terulang didepan matanya. Saat Niel kecil berlari lari mengelilingi pilar pilar besar yang berdiri kokoh disepanjang koridor, lalu tiba tiba seorang perempuan memanggil namanya sambil mengejarnya.
            “Niel!”
            Niel kecil semakin mempercepat larinya sambil tertawa. Langkahnya yang kecil tak mampu mengelabui perempuan berambut hitam panjang itu, hingga akhirnya Niel kecil tertangkap basah.
            “Dasar anak nakal” kata perempuan itu sambil terus menciumi Niel kecil yang tertawa kegelian akibat ciuman itu.
Niel ikut tersenyum mengingat memori indah itu. Kakinya kembali melangkah melewati setiap pilar pilar kenangannya. Sampai akhirnya kakinya berhenti. Niel menempelkan sebelah tangannya dipintu itu, merekam setiap kejadian dimasa lalunya. Matanya mulai berkaca kaca, lalu tersenyum dalam kesedihan. Tangannya beralih memegang knop pintu, sesaat ia ragu untuk membukanya atau tidak. Namun entah kenapa pintu itu terbuka dengan sendirinya, terbukalah kamar bernuansa serba putih yang beraroma melati itu. Nampaklah Niel yang berusia 6 tahun tengah antusias mendengarkan perempuan disebelahnya membacakan sebuah cerita dongeng untuknya.
“Pada akhirnya pangeran Kegelapan menyadari perasaannya pada putri Cahaya. Dendamnya kepada raja Kegelapan perlahan sirna oleh cinta yang diberikan putri Cahaya untuknya dan kerajaan Pelangipun kembali dalam kedamaian. TAMAT”. Perempuan itu menyelesaikan ceritanya lalu melirik Niel yang telah tertidur pulas.
“Selamat tidur sayang. Mimpi indah” bisiknya, kemudian mengecup kening bocah tampan itu sambil memeluknya dalam kehangatan.
Niel tersenyum sinis, mengingat  kembali kejadian masa kecilnya. Saat itu juga kesadarannya kembali. Ia masih berada didepan pintu itu sambil tetap memegang knop pintu karna pintu itu tidak pernah terbuka. Bukan karna Niel tidak ingin membukanya namun karna memang pintu itu, terkunci.
“Pangeran Kegelapan telah kembali Bu, bersama dendamnya yang belum terbalaskan!”
# # #
“Berlian hitam itu , , , , “
            Niel memicingkan sebelah matanya, ketika seorang pelayan memanggilnya untuk makan malam. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu untuk menghentikan panggilan yang mengganggunya itu.
            “Apa kau bisa diam?!” kata Niel setelah membuka pintunya dengan kasar. Pelayan muda dihadapannya itu hanya bisa menelan ludah, ketakutan.
            “M_ maaf Tuan. Tapi Nyonya Cho menyuruh an,,,”
            BRAAKK!!!
            Niel menutup pintunya dengan keras sebelum pelayan itu menyelesaikan kata katanya.
            “Pelayan bodah!” desisnya.
# # #
            “Apa? anak itu tidak ingin memperpanjang kontraknya? Pria itu tersenyum sinis lalu bangkit dari meja kerjanya menuju kearah jendela. Tangan kirinya ia masukkan kedalam saku celananya.
            “Mungkin harus ada sebuah diplomasi yang hangat untuk memberi pelajaran pada anak itu. Katakan padanya bahwa Tuan Cho mengundangnya kemari. Selain untuk keperluan bisnis tentu saja karna sudah lama kita tidak bertemu dan ada sebuah kabar gembira untuknya, dia pasti senang mendengarnya. jadi siapkan semua keperluannya. Perjalanannya sangat panjang, kau harus menyenangkannya”
            “Baik Tuan, akan kami laksanakan!” jawab seseorang dari seberang telepon sebelum akhirnya sambungannya terputus.
            “Bocah tak tahu diuntung itu mencoba mengulang kesalahan Ayahnya kembali? Coba saja!”. Pria yang menyebut dirinya Tuan Cho itu mengambil cangkir kopi dimejanya, lalu menyesapnya perlahan. “Sesuatu yang sudah ada ditanganku, tidak akan aku lepaskan, kecuali aku menghancurkannya!”. Tiba tiba Tuan Cho melepaskan gagang cangkir itu dari tangannya sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
            Nyonya Cho yang memang sengaja ingin menemui suaminya, mempercepat langkahnya setelah mendengar bunyi barang pecah dari ruangan itu.
            “Ada apa?” tanyanya
            “Cangkirnya pecah” sahut Tuan Cho santai. Nyonya Cho menghela napasnya lalu menyuruh pelayannya untuk membersihkan semuanya.
            “Istriku, sebentar lagi kita akan kedatangan tamu istimewa. Kau pasti senang bertemu dengannya”
            “Siapa? Bukankah kita memang sedang ada tamu”. Tuan cho kembali memamerkan senyumnya.
            “Ya, dua duanya memang tamu. Tamu yang tak diharapkan!”
# # #
                Tok tok tok!
            Niel yang baru saja selesai dari kamar mandi, mendesah mendengar pintunya kembali diketuk. Handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya, ia lempar begitu saja kemudian beranjak menuju pintu dengan rambut hitamnya yang masih setengah basah.
            Pintu dibuka, Niel siap akan meledak jika saja manik matanya tidak menangkap sosok yang berbeda dihadapannya. Seorang perempuan berambut coklat keemasan, ikal dan bergelombang. Perempuan cantik itu tersenyum padanya dengan lipstik merahnya yang menawan, seakan kontras dengan kulitnya yang putih. Niel mengamati perempuan itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Semuanya, Sempurna!.
            “Siapa ya?” tanya Niel datar
            “Aku Jane. Istri dari Chand”. Niel mengernyitkan sebelah alisnya, menyadari sesuatu.
            “Oh, senang bertemu denganmu Ja_ne” sahut Niel sambil mengulurkan tangan kanannya. Jane menyambut uluran tangan itu. Tangan yang dingin, tapi terasa menyejukkan. Ditatapnya lagi pria dihadapannya itu, benar benar dingin tapi tetap mempesona dengan rambut yang berantakan dan basah.
            “Sebenarnya, ada perlu apa?” pertanyaan Niel membuat Jane tersadar.
            “Ah, sebenarnya aku, atas nama Chand ingin meminta maaf karna tidak bisa menyambut kedatanganmu. Saat itu kami masih berada dirumah sakit. Kau pasti tahu kan keadaan Chand, jadi aku harap kau bisa memakluminya”
“Tidak masalah. Tidak apa apa” Niel mengatakannya dengan tersenyum, senyum yang berbeda dari biasanya.
“Oh ya, Ibu memintamu untuk segera ke meja makan. Untuk menyambut kedatanganmu”
“A_ah, tentu saja. Aku segera bersiap”
“Baiklah, kami menunggumu” kata Jane sebelum berlalu. Niel kembali tersenyum, matanya masih menatap punggung perempuan itu.
“Dia,,, selalu punya mainan yang bagus!” gumamnya. Kembali dengan senyum sinisnya.
# # #
Pagi harinya,,,
            “Apa kabar Niel, apa semalam tidurmu nyenyak?” tanya Tuan Cho membuka percakapan.
            “Aku baik, kalau buruk tentu aku tidak akan berada disini kan?” sahut Niel sambil melirik kearah Chand yang juga tengah menatapnya.
            “Tidurku juga nyenyak, bahkan lebih nyenyak dari sebelumnya” Niel melanjutkan perkataannya, tatapannya menyapu semua orang yang hadir dimeja makan itu dan ketika manik matanya tertuju pada Jane, ia tersenyum manis. Janepun membalas senyum itu. Sedangkan Chand mengamati keduanya dengan tatapan curiga.
            “Tadi malam aku tidak bisa menyambutmu karna aku terlalu sibuk dan kupikir, sekalian saja menyambut kalian berdua” Niel melirik waspada kearah Pria angkuh itu. “Hari ini aku juga akan kedatangan tamu istimewa. Tamu yang mungkin mengingatkanmu tentang seseorang. Putri dari sahabatku, Tuan Reza Gunawan yang juga seorang pengusaha Teh tersukses di Negerinya. Kau memang tidak mengenalnya tapi mungkin kau mengenal ibunya”. Tuan Cho tersenyum sinis dan detik itu pula seorang penjaga, lengkap dengan jas dan kacamata hitam datang menghampirinya.
            “Dia sudah sampai Tuan” kata penjaga itu
            “Ah, tepat pada waktunya. Segera antar dia kemari, karna kami semua tidak sabar menunggunya”. Sahut Tuan Cho. Semua mata memandangnya dengan pemikirannya masing masing kecuali Jane, yang tidak terlalu menanggapi perkataan Ayah mertuanya itu. Tatapannya justru tertuju pada seorang pria berbaju hitam dengan sorot mata yang tajam bagai Elang, dialah Niel.
            “Selamat pagi semua!” sapa seorang gadis berambut hitam dan panjang, kontras dengan dress satin warna putih. Kulitnya kekuningan bak buah langsat yang ranum, wajahnya ayu dengan senyuman yang manis, alisnya melengkung indah dengan manik mata yang hitam bersinar bagai berlian, Berlian Hitam.

Bersambung ke Bagian 2,,,,

Atau anda bisa download disini