HITAM Dan PUTIH

“ Terkadang Aku merasa menyerah, tapi terkadang Aku harus berjuang!”
Sampai di rumah, Aya mempercepat langkahnya berharap segera menemukan Jane. Dari informasi yang didapatnya dari seorang pelayan, Jane sedang berada ditaman belakang. Sampai ditengah ruangan, Aya berhenti. Menentukan kemana arah menuju Taman itu. Rumah Keluarga Cho sangat luas sehingga menyusahkan Aya yang masih awam dengan rumah itu. Setelah memastikan arahnya dengan benar, Aya meneruskan langkahnya. Ketika ia hampir memasuki area taman itu, kakinya berhenti melihat seseorang didepannya.
            “Tuan Cho”
            “Sedang apa kau disini”
            “Nyonya Cho bilang, Jane belum mengetahui jika Kak Chand sudah sadar. Apakah anda sudah menemuinya Tuan”
            “Ya” jawaban singkat itu membuat Aya lega. “Aya, bisakah kau ikut keruanganku. Kita belum membahas tentang bisnis sejak kedatanganmu kemari. Karna sekarang kondisi Chand membaik, kita sudah dapat melakukannya”
            “Baiklah Tuan”
Tuan Cho tersenyum tipis lalu berjalan keruang kerjanya. Sesampainya disana, ia mempersilahkan Aya duduk didepannya dan menyerahkan sebuah surat kontrak.
“Kau yakin tidak ingin memperpanjangnya” tanya Tuan Cho sambil memainkan Bolpoinnya.
“Saya minta maaf, untuk saat ini kami mengurangi jumlah ekspor Teh mentah ke luar negeri. Yang awalnya mencapai 90%  kini hanya 50% saja. Jika harus mengekspor, itupun yang sudah diolah dengan Brand dalam negeri. Kami sudah banyak belajar tentang kesalahan kami. Teh dari Negara kami adalah yang terbaik di dunia, tapi justru rakyatnya sendiri tidak pernah mencicipinya. Jika ingin mencicipi, harganya pasti selangit karna diolah dengan Brand luar negeri. Padahal kenyataannya, Teh itu juga yang ditanam dan dipetik dari tanah kami”.
“Oh jadi menurutmu, kami para importir Teh yang telah membodohi kalian. Dan sekarang, karna kalian sudah merasa pintar. Kalian bersikap pelit” Aya mencoba berkepala dingin menanggapi pernyataan sinis itu.
“Negara produsen Teh bukan hanya kami Tuan Cho, anda dapat beralih ke negara lain. China atau Jepang misalnya”
“Seperti yang sudah kau katakan tadi, bukankah Teh kalian yang terbaik. Kenapa aku harus mencari alternatif lain”
“Tuan Cho,,”
“Kenapa kau selalu memanggilku Tuan Cho. Panggil saja aku Paman. Bukankah kau juga memanggil istriku dengan sebutan Tante. Aku lihat semakin hari hubungan kalian semakin dekat, hingga Istriku berani membuka sebuah rahasia yang seharusnya tidak kau ketahui” Aya menatap mata tajam itu, mata yang sama seperti milik Niel. “Kau beruntung, aku tidak meminta apapun darimu untuk menebus rahasia itu. Asal kau tahu saja, jangan sampai kau mengulang apa yang terjadi dengan kedua orang tuamu dulu. Kau memang selamat waktu itu. tapi kali ini jika kau melakukan hal yang sama, mungkin kau akan berakhir seperti mereka” Aya terbelalak. Sebenarnya apa yang diperbuat Tuan Cho pada orang tuanya. Setahu Aya, mobil yang ditumpanginya bersama kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju bandara. Saat itu usianya baru 1 tahun.
“Apa kau sedang berpikiran bahwa akulah dalang dibalik kecelakaan itu. Kalau ya, memangnya kau bisa apa? lapor polisi? Coba saja kalau kau punya bukti”. Pria itu tersenyum meremehkan. Menebak isi pikiran gadis itu.“Jadi bagaimana, kau sudah memutuskan?” Tuan Cho meletakkan Bolpoinnya diatas surat kontraknya dan mendekatkannya pada Aya. sedangkan Aya belum bergerak sedikitpun. Pandangannya hanya tertuju pada Bolpoin itu tanpa ada sedikitpun keinginan untuk mengambilnya. Tangannya mendadak gemetar namun sorot matanya tetap menatap mata tajam itu.
“Baiklah. Mungkin kau masih butuh waktu untuk memikirkannya. Kau juga boleh melakukan tawar menawar seperti yang dilakukan Ayahmu dulu dan ia sangat cepat membuat keputusan. Pada akhirnya ia tetap mendatangani kontraknya. Kau tahu kenapa, karna kami berdua melakukan sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan satu sama lain. walaupun semua itu tetap ada konsekuensinya”. Tuan menyeringai diakhir kalimatnya yang semakin membuat Aya tidak mengerti maksud pembicaraannya. Hingga Pria itu beranjak dari duduknya dan mendekati Aya yang masih terduduk lesu. “Kupikir diskusinya berakhir sampai disini. Aku tidak akan memberi batasan waktu, selama kau juga tidak membocorkan rahasia itu pada siapapun karna aku masih menghargaimu sebagai anak dari Ibunya Niel. Kuharap kau paham apa maksudku” seketika raut wajah arogan itu berubah. Ia tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. “Baiklah, sekarang ayo ikut bersamaku ke rumah sakit. Bisnis tetaplah bisnis dan tidak perlu dikaitkan dengan masalah keluarga. Benarkan?” ucapnya.
Tuan Cho melangkah keluar dari ruangan itu sedangkan Aya masih belum beranjak dari duduknya. Ia terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Walaupun ia sudah menyiapkan mentalnya untuk situasi tersebut. Tetap saja, praktek dilapangan lebih sulit dari yang dibayangkan. Ia tidak pernah menyangka situasinya akan seperti ini. Bahwa Tuan Cho mengaku terlibat dalam kecelakaan itu. Benarkah kejadian itu bukan hanya kecelakaan biasa namun sebuah konspirasi pembunuhan!. Tapi kenapa? Aya menghela napasnya berkali kali, mencoba bersikap biasa saja. ia belum dapat memastikan kebenarannya sebelum mendapatkan bukti yang jelas. Jadi ia harus bersikap bahwa tidak terjadi apa apa, hanya pembicaraan bisnis seperti biasanya. Ketakutan hanya akan membuatnya lemah. Aya lalu memantapkan hati lalu bangkit dari kursinya. Tidak lupa ia memanjatkan doa, untuk memulai menaklukan misi yang sebenarnya.
# # #
“Kau mau kuantar, kebetulan aku juga ingin menjenguk Chand”
“Baiklah jika tidak merepotkanmu”.
Niel tersenyum tipis lalu memberikan sebuah kode pada penjaga. Penjaga itu mengerti lalu bergegas menuju bagasi.Tak lama berselang sebuah Mobil mewah model sport berhenti didepan mereka. Pintunya terbuka keatas dan penjaga tadi keluar dari sana kemudian menyerahkan kuncinya pada Niel. Jane ternganga melihat mobil itu.
“Apa itu mobilmu Niel?”
“Ya, kau suka?”
“Luar biasa!”
Niel tersenyum lagi lalu membukakan pintu mobil itu untuk Jane. Perempuan cantik itu berterima kasih sebelum memasuki Mobil mewah didepannya. Lagi lagi, ia berdecak kagum. Setelah duduk disebelah Jane, Niel bersiap menjalankan Mobilnya. Seringaian kecil muncul disudut bibirnya sebelum Mobil itu melesat bagai angin. Detik itu pula Tuan Cho datang, ia memperhatikan ‘Besi’ berjalan itu dari kejauhan.
“Siapa pemilik Mobil itu?” tanya Tuan Cho pada penjaga
“Tuan muda Niel. Nona jane juga ikut bersamanya”
“Oh,, bagus sekali!” ucap Tuan Cho sambil menggertakkan giginya. Sesaat kemudian Aya telah berdiri disampingnya. “Kau sudah datang rupanya” ujarnya lalu beralih kepada Penjaga. “Cepat siapkan Mobil!”

Sesampainya di Rumah Sakit. Jane sangat senang mengetahui dari Dokter David bahwa suaminya sudah sadar 1 jam yang lalu. Saat ia tidak sengaja berpapasan dengannya di jalan menuju Ruang dimana suminya dirawat. Sesampainya di Ruang ICU, Jane hanya tersenyum bahagia menyapa Nyonya Cho yang duduk tak sabar menunggunya dari tadi. Setelah itu ia langsung bergegas menemui Chand. Tak sabar melihat wajah rupawan suaminya.
Nyonya Cho sedikit terkejut mengetahui Niel yang bersama menantunya. Wajahnya berubah cemas. Niel melihat perubahan itu dan tersenyum sinis menanggapinya.
“Apa kabar Nyonya. aku ikut senang melihat putra kesayanganmu itu sudah membuka matanya”
“Te_terima kasih Niel. Kesembuhan Chand juga berkat dirimu. Kami sangat berhutang budi. Aku sangat menyesal atas perbuatanku dulu, dan kumohon kau mau memaafkanku dan Chand. Kami sangat menyesal” Nyonya Cho mencoba meraih lengan kanan Niel
“Simpan saja penyesalanmu itu Nyonya. Kata maafmu sudah tidak berlaku lagi!” Niel menghempaskan tangan itu dan pergi menjauh dari sana. Namun belum terlalu jauh ia melangkah, kakinya terhenti oleh tubuh tinggi dihadapannya. Kedua mata elang itu saling beradu.
“Aku ingin bicara empat mata denganmu” bisik Tuan Cho
“Oh, baiklah. tapi hanya sebentar, Aku sangat sibuk. waktuku sangat berharga” sahut Niel acuh. Ia kembali meneruskan langkahnya. Tuan Cho mengepalkan tangannya, menahan amarah. Istrinya memandanginya khawatir. Melihat Ayah dan Anak itu terlibat perang dingin.
Niel sudah ingin menghentikan langkahnya kembali, melihat Aya yang berjalan kearahnya. Tapi ada yang berbeda dari gadis itu, tatapannya kosong dan cahaya matanya memudar. Sampai sampai Gadis itu tak menyadari jika telah berpapasan dengannya. Kini giliran Niel yang bertanya tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu.
-
Setelah menemukan tempat yang cukup sepi, Niel berhenti dan menyuruh Tuan Cho segera mengatakan maksudnya. Pria yang berstatus Ayahnya itu mendengus kesal. Belum pernah ada orang yang berlaku tidak sopan padanya seperti itu. Lebih parahnya lagi orang itu adalah Niel, yang notabene adalah Putranya sendiri. Niel tidak peduli. Ia merasa tak melakukan kesalahan apapun. Baginya, Pria itu bukanlah Ayahnya. Lebih tepatnya, tidak pernah menjadi Ayahnya. Hanya karna ia terlahir dari benih Pria itu, bukan berarti ia adalah anaknya.
“Apa yang kau lakukan pada Jane” Tuan Cho memulai ‘pertarungan’
“Bukan urusanmu”
“Niel!” teriak Tuan Cho. Membuat orang orang yang tidak sengaja lewat ditempat itu memperhatikan mereka. Tuan Cho memelankan suaranya sambil mendekatkan dirinya kearah Niel. “Apa yang sebenarnya kau inginkan. Aku akan memberikannya, status, harta, kekuasaan atau apapun. asalkan kau tidak menggangu keluargaku dan setelah itu pergilah sejauh jauhnya dari kami”. Otot rahang Niel mengeras mendengar ocehan itu.
“Sayang sekali, aku tidak butuh apapun darimu. Lagipula apa yang kau miliki. Setahuku kau hanya seorang Manajer Hotel biasa. Kekayaanmu juga tidak seberapa” Niel tersenyum meremehkan. Tuan Cho terkejut mendengarnya. “Kudengar asal kekayaanmu saat ini adalah warisan. Seharusnya kau malu telah berani membangga banggakannya didepanku. Kau tidak lebih dari seorang pecundang”. Setelah mengatakan itu sebuah tamparan keras mendarat dipipi Niel.
“Apa Ibumu tidak pernah mengajari sopan santun!”. Niel tersulut emosinya mendengar pria itu menyebut nyebut ibunya.
“Kau tidak berhak mengatakan sesuatu tentang Ibuku. Karna Kau tidak tahu apapun tentangnya. Yang kau tahu hanyalah membodohinya” . Dua mata elang itu kembali beradu. “Dan juga meguras hartanya”. Tuan Cho terhenyak mendengar kalimat terakhir itu. Wajahnya memucat seketka. Ia memundurkan tubuhnya, menjaga jarak dari Niel.
“K_kau tahu tentangnya”. Niel tersenyum sinis. Mengetahui kelemahan lawannya.
“Aku tahu semuanya. Rahasia itu, yang kau kubur puluhan tahun telah terbongkar. Sekarang, kau hanya bisa menunggu riwayatmu hancur. Jadi, jangan coba coba mengganggu urusanku jika kau tidak ingin aku membongkar rahasia itu” Setelah mengeluarkan ancaman itu, Niel menjauh dari sana. Merasa ia telah memenangkan pertarungan.
“Jadi kau sudah tahu. Lalu apa yang kau lakukan padanya” Tuan Cho belum menyerah, ia belum kalah. “Hanya memandangnya dari kejauhan atau, justru menganggapnya tak pernah ada” mau tak mau Niel menghentikan langkahnya. Wajahnya kembali menegang. Tuan Cho tersenyum sinis. “Kalau begitu, kau tidak ada bedanya denganku. Membongkar rahasia itu sama halnya kau membiarkan bom itu membunuh dirimu sendiri”.
Skak Mat!
Niel diam mematung. Ia telah kehabisan kata kata. Tuan Cho membalik keadaan, ia melenggang dengan senyuman meninggalkan tempat iu untuk menemui Putra sulungnya, Chand.
# # #
“Apa Aya juga ada disini?” Jane sedikt terkejut dengan pertanyaan suaminya. “Aku ingin bertemu dengannya”
“Aku tidak tahu. Saat aku tiba disini, aku tidak melihatnya” Chand terlihat kecewa mendengar jawaban itu dan Jane menyadarinya. “Kalau begitu aku akan keluar mengeceknya, siapa tahu dia sudah datang”. Chand tersenyum setuju. Akhirnya Jane meninggalkannya dengan berat hati. Ia masih ingin bersama suaminya tapi Pria tampan itu justru menginginkan perempuan lain. Jane sangat berharap bahwa Aya tidak ada disana, setidaknya untuk saat ini namun harapannya sirna ketika melihat gadis itu tengah terlibat perbincangan yang hangat bersama Ibu mertuanya. Mereka sangat akrab bagai Ibu dan anak. Tiba tiba ia merasa sangat cemburu, pada gadis yang baru beberapa hari ini datang ke keluarganya. Namun semua orang seperti telah mengenalnya bertahun tahun.
Jane akhirnya memanggil Aya. ia keluar untuk berganti posisi dengannya. Aya memang sosok yang menyenangkan, tidak mustahil semua orang suka dengannya. Tidak terkecuali dengan suaminya, batin Jane. Hanya sebagai seorang teman atau mungkin adik bagi Chand. Ya, hanya sebagai adik. Pikirnya lagi, menenangkan hatinya.
-
“Selamat siang menjelang sore Kak Chand. Tidurmu nyenyak sekali sampai sampai kau bangun kesiangan” sapaan bertubi tubi itu reflek membuat bibir Chand menyunggingkan senyum.
“Ya, aku kebanyakan tidur. Kenapa kau tidak membangunkanku” Aya mendelik bingung.
“Aku tidak tahu caranya”. Chand kembali tersenyum namun hanya sesaat. Mendadak wajahnya berubah murung.
“Apa yang terjadi saat aku masih tidur?”. Aya tidak langsung menanggapi. Ia paham bahwa pertanyaan itu bernada serius. “Niel, apa dia melakukan sesuatu” tanya Chand lagi.
Tebakan Aya benar. namun ia masih bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Ia sama sekali tidak tahu apa apa soal Niel. Lebih tepatnya, apa yang pria itu lakukan saat berada dirumah keluarga Cho. Setahu Aya, Niel hanya menghabiskan waktunya didalam kamar.
“Aku takut, ia menjadikan Jane sebagai alat untuk balas dendamnya” lanjut Chand.
“Kak Jane. Apa untungnya bagi Kak Niel?” Aya sengaja memposisikan dirinya sebagai pihak yang tidak tahu apa apa. ia ingin mendengar apa yang dipikirkan Chand soal rencana balas dendam Niel. Aya jadi teringat dengan pengakuan Tuan Cho padanya. Apakah rencana balas dendam Niel ada sangkut pautnya dengan semua itu.
 “Seperti yang aku lakukan dulu padanya. Dia ingin merebut yang kumiliki, yaitu Jane” Aya tetap terkejut walaupun ia sudah menduga apa yang ada dipikiran Pria itu. “Lalu, menurutmu apa yang harus aku lakukan padanya. Haruskah aku merelakan Jane untuknya sebagai tebusan atas dosa dosaku. Sekarangpun, aku malah berhutang nyawa padanya”. Aya memandang Chand, mencoba memahami apa yang sedang dirasakan Pria itu.
“Kak Chand. Jika ada orang yang bersalah maka ia harus minta maaf. Jika ada yang memberinya sesuatu maka ia harus berterima kasih. Minta maaflah dan ucapkan terima kasih”
“Menurutmu, itu saja sudah cukup”
“Kalau dia meminta lebih, biarkan Tuhan saja yang membalasnya. Jadi Kak Chand tidak perlu pusing memikirkannya ”. Chand tersenyum.
“Terlihat sangat mudah untuk sebuah persoalan yang rumit” ucapnya.
“Justru hal yang mudah itu adalah kunci untuk memecahkan masalah terbesarnya.” sahut Aya.
 Chand kembali berpikir. Sesimple itukah? Namun pikirannya sedikit teralihkan saat melihat perubahan dari raut wajah gadis dihadapannya. Gadis itu seperti memiliki beban dipikirannya.
“Kau kenapa”. Mendapat pertanyaan itu Aya mencoba tersenyum. Haruskah ia mengatakannya pada Chand. Mungkinkah ia tahu sesuatu
“Tidak ada apa apa. hanya masalah bisnis dengan Tuan Cho. Kami belum memperoleh kesepakatan karna aku sedikit kesulitan berkomunikasi dengannya. Maaf, menurutku dia sedikit keras kepala” Aya terkekeh sendiri dengan ucapannya. Chand mengerutkan dahinya. Mencoba menebak apa yang dilakukan Ayahnya terhadap gadis itu.
“Apa dia mengancammu” tanyanya. Melihat Aya hanya diam dengan tatapan heran, sudah cukup memberinya jawaban. “Dia memang orang yang seperti itu jika menyangkut soal bisnis. Kata katanya pedas, dan terkadang menyakitkan. Dia berlagak sangat berkuasa dan menakutkan. Tapi itu semua hanya cara Ayahku untuk mempertahankan ambisinya. Agar semua orang tidak lagi memandangnya sebelah mata karna ada selentingan kabar, bahwa kekuasaan yang didapatkannya adalah hasil kecurangan dan Ayah ingin menunjukkan pada mereka bahwa kabar itu benar jika mereka percaya dengan bodohnya. Padahal keberhasilannya karna ia memang mampu, bukan hasil dari belas kasihan orang atau menggunakan cara yang kotor. Kau tidak perlu menganggap serius kata katanya yang mengintimidasi. Dia memang bukan orang baik tapi ayahku bukan orang yang kejam. Dia tidak akan melakukan hal diluar batas walaupun ancamannya terdengar mengerikan. Dia hanya bisa sebatas itu, tidak lebih. jadi Kau tidak perlu cemas”
 Tuan Cho sering mengancam rekan rekan bisnisnya dan itu sudah menjadi rahasia umum. Jadi apa yang didengarnya beberapa saat yang lalu hanya sebuah gertakan?, batin Aya dalam hati
“Apa dari dulu Tuan Cho memang seperti itu?” tanyanya kemudian
“Tidak. Dia berubah sejak mendapatkan warisan”
“Warisan?”
Chand menyadari kesalahannya. ia sudah bicara terlalu jauh. Haruskah ia melanjutkannya, tapi itu berarti ia harus melanggar kepercayaan Ayahnya. Dan ia belum pernah sekalipun melanggarnya. Perintah Ayahnya, bagaikan petuah yang harus dilaksanakan. Tapi disisi lain hati kecilnya ingin memberontak. Ada sebuah rahasia dibalik harta warisan itu, yang juga ingin ia bongkar sejak lama namun terlahang perintah Ayahnya. Untuk tidak perlu ikut campur.
Chand mencoba mengangkat kepalanya. Bangkit dari posisinya yang ia rasa sudah tak nyaman. Dengan gerakan cepat, gadis berambut panjang itu menahannya dan memberi isyarat agar ia tak perlu bergerak, biar tempat tidurnya saja yang bergerak. Aya dengan hati hati mengatur posisi ranjang itu dan setelah mendapatkan posisi yang nyaman. Chand siap untuk mengatakan sesuatu kepada gadis itu.
# # #
Mobil mewah Niel berhenti di sebuah tepian jalan dan Ia sama sekali tak berniat untuk turun dari mobil itu padahal sudah lebih dari setengah jam ia menghabiskan waktu disana. Pandangannya hanya tertuju pada sebuah rumah sederhana namun sangat asri, sejuk dan nyaman. Banyak pohon rindang yang mengelilingi rumah itu hingga terkesan seperti sebuah rumah di tengah hutan, padahal kawasan itu terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Niel semakin menajamkan pengliatannya saat 2 orang perempuan keluar dari dalam rumah itu. Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah kursi yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan juga terdapat sebuah kanvas yang berukuran cukup besar disana. Perempuan yang lebih muda menuntun perempuan disebelahnya untuk duduk di kursi itu lalu berjalan sedikit menjauh membiarkan Perempuan yang duduk di kursi melakukan kegiatan kegemarannya, yaitu melukis. Seorang perempuan yang usianya hampir setengah abad namun masih terlihat seperti 30 tahunan. Wajahnya selalu menyunggingkan senyum, seperti tanpa beban.
Niel melihat perempuan itu dengan pandangan nanar. Akhirnya ia keluar dari mobilnya untuk mendekati perempuan itu. Sengaja ia melambatkan langkahnya agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. Dari kejauhan Niel dapat melihat bagaimana dengan lincahnya tangan perempuan itu memegang kuas hingga baru sebentar saja sudah menghasilkan gambar yang indah. Bukan gambar dari objek di depannya, walaupun pemandangan disana tidak kalah indah. Sama sama hijau namun berbeda, lebih terlihat seperti kebun. Sebuah kebun Teh, lengkap dengan para pemetiknya.
Niel tersenyum miris melihat gambar itu karna Ia sudah menduga sebelumnya. ‘Gambar yang selalu sama’, batinnya. Walaupun ia tak bisa melihat keseluruhan gambar itu karna terhalang tubuh perempuan lain yang bertugas mengawasinya. Entah gerakan dari kaki Niel atau memang insting dari perempuan itu sendiri yang membuatnya akhirnya menyadari kehadiran Niel dibelakangnya.
“Anda lagi. Sudah berapa kali saya memperingatkan anda untuk jangan pernah datang kemari. saya mengerti anda adalah penggemarnya namun tetap saja anda dilarang mengganggunya atau saya harus melakukan hal yang sama kepada anda seperti sebelumnya” kata perempuan muda itu, sinis. Setelah menghampiri Niel untuk menghadangnya.
“Itu karna kau beruntung. Aku hanya tidak suka melawan perempuan, apalagi yang cerewet” sahut Niel tetap melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan ucapan perempuan dihadapannya. Yang membuat permpuan itu membulatkan mulutnya tak percaya.
Dengan sigap permpuan itu langsung menangkap kedua tangan Niel dari belakang lalu menendang tulang ekor Niel dengan lututnya. Sukses membuat pria itu jatuh tersungkur. ‘Seperti ini lagi’, gumam Niel dalam hati. Namun tekadnya sudah bulat kali ini. Ia tak akan mengalah. Ia ingin membuktikan pada seseorang bahwa ia bukanlah seorang pengecut yang hanya dapat memandang perempuan yang tengah melukis itu dari kejauhan, tanpa berani menemuinya. Ya, perempuan itu masih melukis. Tidak peduli dengan keributan yang terjadi dibelakangnya. Perempuan itu seperti punya dunianya sendiri. Niel kembali menatapnya nanar kemudian beralih menoleh kearah perempuan dibelakangnya.
“Kau cantik”
“Apa?”
 Pipi perempuan itu sedikit merona. Siapa yang tidak terpesona ketika mendapat pujian dari seorang pria tampan. Niel merasa usahanya berhasil mengecoh perempuan itu dan ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membalik keadaan. Niel tersenyum sinis kemudian menendang kaki perempuan malang itu. Niel sengaja menendangnya dengan keras berharap membuat kaki panjang itu terkilir atau jika perempuan itu beruntung, tulang kakinya tidak akan patah. Niel berdiri memandangi perempuan yang mengerang kesakitan didepannya, sepertinya kakinya benar benar patah. Terbukti saat ia berusaha bangkit namun gagal yang semakin membuat kakinya terasa sakit.
‘Maaf, aku sengaja” ucap Niel tanpa rasa bersalah. Benar benar pria dingin yang menyebalkan. Niel meninggalkannya begitu saja.
Kini konsentrasi pria itu hanya tertuju pada perempuan yang sedang melukis. Langkahnya semakin mendekat hingga hanya berjarak beberapa senti saja. tangannya mulai bergerak menggapai bahu perempuan itu untuk memberitahukan kehadirannya. Namun belum sempat itu terjadi seorang laki laki berpakaian seperti tukang kebun menghampirinya lalu menyeretnya menjauh dari sana. Sampai di tepi jalan, Laki laki itu menghempaskan tubuh Niel hingga hampir membentur mobilnya sendiri. Lalu menodongkan pistol dan menyuruh Niel segera pergi. Niel menahan amarahnya untuk tidak bertindak lebih jauh, padahal tinggal sedikit lagi. Niel bisa saja melawan laki laki itu tapi sepertinya percuma, sekali ia menumbangkan orang orang itu maka akan datang orang lain lagi yang menghalanginya. Yang harus ia singkirkan terlebih dulu adalah orang yang berada dibalik semua ini.
“Siapa lagi,,,”
# # #
Aya masih sibuk membongkar setiap sudut kamarnya. Ini yang kedua kalinya setelah beberapa hari yang lalu ia melakukan hal sama. Kamar yang awalnya rapi kini sedikit berantakan akibat ulahnya. Ia berharap menemukan sesuatu, sesuatu yang dibicarakan Chand. Sebuah buku yang dapat membantunya memecahkan rahasia.
Aya menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur, merasa usahanya sia sia. Ia masih tidak menemukan apapun, semua jejak tentang penghuni sebelum dirinya telah hilang. Atau mungkin sengaja dihilangkan. Entahlah, batinnya. Aya kembali teringat apa yang dikatakan Chand padanya.
“Aku tidak bisa menjelaskannya padamu sebab aku juga tidak terlalu mengerti soal harta itu. aku tetap yakin pada ayahku bahwa ia memang layak mendapatkannya. Sebenarnya itu bukan murni warisan, lebih tepatnya ayahku diberi kepercayaan untuk mengelolanya sebelum seseorang yang menjadi ahli warisnya telah datang. Setelah itu ayah akan mengembalikannya pada orang itu.
“Dan kau tahu, saat ayahku mendapatkan warisan itu. ia juga membawa pulang Niel. Umurku 5 tahun waktu itu dan aku tidak suka melihat bayi yang sepertinya baru lahir itu tengah pulas digendongan ibumu. Ya, kurang lebih sudah satu tahun aku tidak melihat wajah ibumu dan aku sedikit kecewa ketika dia membawa seorang anggota baru. Ayahku bilang, bayi itu adalah putra ibumu sedangkan ayahnya telah meninggal. Sejak Ayahku dipindah tugaskan ke sebuah Hotel dan Resort di dekat perkebunan Teh. ayahku meminta ibumu untuk menemaninya mengurus segala keperluannya selama tinggal disana. Saat itu aku keberatan, kenapa ayah tidak menyuruh pembantu saja. kenapa harus ibumu, yang tugasnya hanya mengasuhku. Tapi ayahku tidak mau tahu, ayah sedikit keras padaku waktu itu. entahlah, biasanya ia sangat lembut. Setiap akhir pekan Ayah selalu menyempatkan untuk pulang namun tidak dengan ibumu. Aku benar benar merindukannya.
“. Aya, ternyata Niel adalah adikku. Anak dari seorang perempuan selain ibuku. Tapi aku sangat yakin orang itu bukanlah ibumu, ada perempuan lain dan Aku sempat melihat fotonya. Seorang perempuan muda yang tengah mengendong Niel yang masih bayi. Aku tidak sengaja menemukannya, terjatuh diantara buku milik ibumu”.
Mendadak Aya bangkit dari posisinya. Mencoba usahanya kembali, ia tidak akan putus asa semudah itu. ia menerka nerka. Jika benda itu disembunyikan, mungkin akan diletakkan dtempat yang tidak bisa dijangkau dan secara otomatis pandangannya tertuju pada lemari yang diposisikan menempel pada dinding. Namun bukan pada lemari itu, tebakan Aya justru mengarah pada sekat yang  berada diantaranya. Ia lalu memasukkan tangan kanannya ke dalam sekat itu, mencoba masuk lebih dalam lagi. Dan benar saja, tangannya menyentuh sebuah benda dengan posisi vertikal. Aya mendorong sedikit lemarinya agar memudahkan tangannya untuk mengambil benda apa itu.
Aya melonjak kegirangan ketika mengetahui benda itu memang sebuah buku. ia membuka setiap lembarannya dan hatinya sedikit kecewa karna tak menemukan foto apapun. Ia menghela napas untuk kesekian kalinya. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Diliriknya lagi buku itu, ada sebuah gambar disampulnya namun tertutup debu yang tebal. Ia memang belum sempat membersihkannya. Dan setelah semua debunya menghilang, Aya baru sadar bahwa buku itu merupakan sebuah cerita dongeng.
“Apakah buku ini milik Kak Niel” gumamnya. “Pangeran kegelapan dan Putri cahaya”

Bersambung,,,,

            Sampai di Rumah Sakit, Chand segera dilarikan ke Ruang IGD. Niel dan Aya hanya mematung di depan ruang itu dengan napas yang masih memburu. Aya menoleh kearah Niel, baju hitamnya terkena darah walaupun tidak begitu terlihat. Niel waspada saat Aya mendekatinya, waspada terhadap hatinya sendiri.
            “Terima kasih” ucap Aya tulus. Niel hanya diam, merasakan detak jantungnya yang mulai meningkat. Ia mulai panik dan memutuskan untuk menjauh, ke tempat dimana gadis itu tidak bisa menemukannya. Ia hanya belum siap dengan hatinya sebab saat melihat gadis itu ia seperti melihat Ibunya. Ia takut jika pembalasan dendamnya yang ia rencanakan selama ini akan hancur begitu saja. Memandang mata gadis itu lebih seperti mendengar permohonan ibunya untuk menghentikan semuanya. Ia takut pertahanannya akan goyah jika berada didekat gadis itu.
            Saat kepergian Niel, dari arah berlawanan sebuah mobil berhenti didepan ruang IGD. Jane, orang pertama yang keluar dari mobil itu lalu diikuti Tuan dan Nyonya Cho yang setengah berlari menghampiri Aya yang berdiri mematung sendirian.
            “Dimana Chand?” pertanyaan Jane menyadarkan Aya
            “Di dalam. Dokter sedang melakukan pertolongan”
            “Lalu dimana Niel, aku tidak melihatnya?”. Pertanyaan Nyonya Cho membuat Aya menelan ludah.
            “Mungkin dia sedang menghirup udara segar, dia kelihatan lelah” Akhirnya ia menemukan sebuah jawaban yang entah benar atau tidak, tapi yang pasti ia tidak berbohong. Niel memang terlihat sedikit, kelelahan.
            10 menit kemudian seorang Dokter keluar sambil memanggil keluarga pasien. Tuan Cho yang pertama menghampirinya. Wajahnya terlihat khawatir.
            “Keadaan pasien sangat buruk. Kami sudah menghubungi Dokter spesialisnya agar beliau dapat menjelaskan keadaannya lebih detail. Untuk sementara ini kami akan memindah pasien ke ruang ICCU. Kita hanya bisa berdoa semoga pasien dapat melewati masa kritisnya” Dokter itu kemudian undur diri.
            Tuan Cho terduduk lemas, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Pria angkuh itu seperti kehilangan taringnya jika mengenai putranya. Nyonya Cho menggenggam erat tangan Jane untuk menguatkannya, sembari menguatkan dirinya sendiri. Jane menangis, menyesal kenapa ia begitu ceroboh hingga membiarkan Chand keluar kamar. Seharusnya saat ini pria itu berbaring di tempat tidur setelah meminum obat, di kamar mereka yang luas. Chand tidak perlu keluar kamar sebab semuanya telah tersedia disana dan seharusnya dia tidak meninggalkannya,,,
            “Bagaimana dokter?” Tuan Cho tidak sabar mendengar penjelasan pria berjas putih yang baru saja keluar dari ruang ICCU. Dokter itu menghela napas.
            “Keadaannya memang memburuk, kondisinya juga belum stabil jika dipaksa untuk operasi. Kita hanya bisa menunggu, semoga kondisinya membaik sehingga operasi pengcangkokan sumsum tulang belakangnya dapat segera dilakukan”
            “Tidak bisakah operasinya dilakukan saat ini juga?!” sambar Tuan Cho
            “Tidak bisa Tuan, resiko infeksinya akan semakin besar dan akan berakibat fatal”
            “Tapi putraku sedang sekarat disana dan kau tidak  melakukan apapun!”
            “Sebaiknya anda tenang dulu Tuan Cho, emosi juga tidak akan menyelesaikan apapun!”. Detik itu juga seorang perawat menghampiri Dokter David dan memberitahukan sesuatu. Dokter David bergegas kembali ke ruang ICCU. Keluarga Cho semakin panik melihat situasi itu, terutama Aya yang masih menunggu tanpa kepastian.
            10 menit kemudian Dokter David baru keluar. Seperti tergesa gesa dan memberi isyarat pada Tuan Cho untuk mengikutinya. Jane tak kuasa menahan airmatanya, pikirannya berkecamuk memenuhi otaknya. Ia memutuskan untuk melihat kondisi Chand dengan mata kepalanya sendiri. Setelah memakai pakaian khusus ruangan itu, Jane menemui Chand dan langsung menggenggam erat tangannya. Airmatanya semakin deras mengalir,  menyaksikan Chand yang tak memberikan respon apapun. Hanya suara alat pentedeksi detak jantung yang terdengar. Jane melihatnya sekilas. Nampak angka yang semakin lama semakin menurun, ia berpikir sejenak sebelum sebuah suara menepuk pundaknya.
            “Kondisinya mulai membaik. Para Dokter sedang bersiap jika sewaktu waktu akan ada operasi darurat. Berdoalah Nyonya, semoga Tuhan mengabulkan doa anda” Perawat itu tersenyum membantu menguatkan mental Jane sebelum kembali pada tugasnya mengawasi semua pasien diruangan itu. Jane tersenyum lega, ada kilat bahagia dimatanya. Ia mencium tangan suaminya sambil membisikkan sesuatu
            “Bertahanlah sayang, aku mencintaimu!”
            10 menit berlalu, Tuan Cho keluar dari ruangan Dokter dengan secercah harapan. Ia menghampiri istrinya dan Aya yang sekarang duduk berdampingan.    
“Apa Niel belum juga kembali?” pertanyaan itu membuat keduanya saling berpandangan.
“Aku bahkan belum melihatnya dari tadi”  sahut Nyonya Cho. Aya reflek bangkit dari duduknya.
“Saya akan mencarinya diluar” Tuan dan Nyonya Cho mengangguk setuju. Aya berjalan menuju pintu keluar rumah sakit itu. Disepanjang jalan, setiap orang yang berpapasan dengannya pasti memperhatikannya sambil berbisik sesuatu. Aya tak ambil pusing, ia tahu bajunya yang penuh bercak darah mengundang setiap mata untuk memperhatikannya.
Sampai didepan pintu Aya berhenti, memperhatikan sosok hitam yang baru saja berpapasan dengannya namun sama sekali tak melirik kearahnya.
“Mereka, mencarimu” mendengar seruan itu Niel berhenti, tanpa menoleh kebelakang.
“Aku tahu” jawab Niel dingin lalu kembali meneruskan langkahnya.
Ya, Niel telah kembali setelah membangun kembali puing puing ambisinya yang hampir rubuh. Bahkan kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Niel telah memantapkan hatinya, untuk tidak berhenti sampai disini hanya karena seorang gadis yang memiliki Cahaya dalam matanya. Dia hanya perlu menghindar, menghindari Cahaya itu.
“Pangeran Kegelapan tidak akan pernah berhenti, walau Putri Cahaya telah datang sekalipun!” batin Niel dalam hati.
# # #
Menjelang sore hari Aya dan Niel dalam perjalanan pulang ke rumah keluarga Cho. Operasinya telah selesai dan Niel telah diperbolehkan pulang. Aya turut menemaninya atas permintaan Nyonya cho, selain karna ia juga harus mengganti pakaiannya. Tidak ada pembicaraan atau sekedar obrolan ringan dalam perjalanan tersebut, keduanya hanya diam mengikuti pikirannya masing masing. Keadaan berbalik, kini Aya yang sendirian duduk dijok belakang mengamati punggung hitam milik Niel. Sesekali ia mengusir bosan dengan melihat pemandangan dari sisi jendela, ingatannya kembali teringat dengan pembicaraannya dengan Nyonya Cho saat operasinya tadi sedang berlangsung.
“Niel dan Chand adalah saudara seAyah. Aku tahu ini sangat mengejutkan untukmu tapi inilah kenyataannya. Bahkan, untukku sendiri” Nyonya Cho menahan sesak didadanya lalu menoleh pada Aya dan membelai rambutnya. “Tapi ini bukan berarti, kau harus berburuk sangka pada ibumu. Jangan, jangan mengulang kesalahan yang sama denganku. Dulu aku melakukannya, hanya karna bisikan orang orang yang mencurigai kemiripan antara suamiku dan Niel. Bahkan  pernah suatu kali, seorang temanku pernah salah mengenali Niel sebagai putraku bukannya Chand. Ya, karna kesalahanku itulah aku kehilangan sahabat terbaikku, yaitu Ibumu. Karna pikiran buruk itu aku mulai membencinya dan kebencian itu semakin menjadi karna ibumu hanya diam saat aku meminta kejelasan darinya. Ia hanya bisa menangis dan itu sudah cukup untuk menjawab semuanya”. Nyonya Cho mencoba menahan isakannya.
“Hingga pada suatu hari, Niel mendorong tubuh Chand hingga sikunya berdarah. Saat itulah aku diambang batas kesabaranku. Niel, bocah laki laki yang polos itu menjadi korban kebohanku. Aku, aku membuangnya ke panti asuhan”. Wanita bermata coklat kehijauan itu tak dapat lagi membendung tangisnya. “Karna tindakanku itu, suamiku sangat marah dan itu membuat kecurigaanku semakin benar. Saat aku bertanya apa kemarahannya disebabkan aku telah membuang putra kandungnya, dia hanya diam. Kenapa mereka berdua membiarkanku dalam kebodohan hanya karna sebuah kebisuan” lanjut Nyonya Cho mengakhiri kalimatnya sambil menutupi wajahnya menahan isakan. Aya merangkulnya, mengusap usap punggungnya seolah berkata ‘Sudahlah Nyonya, tidak apa apa. semua telah berlalu, yang harus dilakukan adalah memperbaikinya’. Bukannya Ia merasa baik baik saja, Aya juga menangis. Perasaannya berkecamuk, tentang Chand yang sakit, ibunya yang memendam rahasia dan juga tentang Niel, yang selalu mengacuhkannya.
# # #
Sudah 2 hari ini Jane masih setia menunggui Chand yang masih koma pasca operasi. Wajahnya terlihat lelah, mata birunya dihiasi lingkaran hitam walaupun itu semua tak merubah sedikitpun aura kecantikannya.Tuan Cho tak tega melihatnya hingga menyuruhnya pulang sebentar untuk beristirahat. Jane sedikit keberatan dengan permintaan Ayah mertuanya walaupun akhirnya ia menyetujui permintaan itu sebab Nyonya Cho juga membenarkan saran suaminya.
Tak berbeda jauh dengan Jane, Aya juga merasa lelah dengan sikap Niel. Sudah berkali kali ia mengajak pria yang selalu memakai baju bewarna hitam itu bicara, bahkan sekedar untuk menyahut panggilan Ayapun tidak. Pemilik mata elang itu sama sekali tak memperdulikannya. Kehidupan pria itu sangat misterius, lebih tepatnya saat ia menghabiskan waktu seharian dikamarnya yang selalu tertutup. Sesekali keluar hanya untuk makan, itupun tidak tentu. Aya lebih sering menghabiskan makanannya sendirian. Justru Aya selalu menjumpai Niel saat jogging di pagi yang masih buta, saat semua orang di kota itu masih terlelap. Bahkan saat Aya telah selesai olahraga paginya, Niel masih saja sibuk membentuk otot tubuhnya. Mungkin untuk menyimpan banyak oksigen, pikir Aya. Ia hanya bisa memandangnya dari jauh sambil tersenyum. memandangi seorang pria tampan dengan tubuh yang atletis, Siapa yang tidak tergoda. Sebab menurut Aya, percuma saja ia menghampirinya. Niel akan selalu menjauh, entah sampai kapan.
Aya telah menyelesaikan sarapannya, namun batang hidung Niel masih belum terlihat. Aya hanya bisa menghela napas frustasi. Hari ini ia akan pergi ke suatu tempat. selain mengusir kebosanannya, ia juga harus melanjutkan petualangannya. Sampai di pelataran, ia melihat seorang perempuan turun dari mobil. Wajah cantik itu akan menyihir siapapun yang melihatnya.
“Cahaya, kau mau kemana?” Sapa wajah cantik itu. Aya  meringis heran, kenapa semua orang dirumah ini selalu menyebut nama lengkapnya.
“Aku mau jalan jalan. Oh ya bagaimana dengan keadaan Kak Chand. Aku ingin sekali menjenguknya tapi Nyonya Cho menyuruhku untuk menunggu setelah dia sadar”
“Dia, belum ada perubahan”. Aya melihat jelas kesedihan itu.
“Tenang saja, Kak Chand pasti bangun. Mana mungkin dia tega melihat istrinya yang cantik ini terus bersedih”. Aya mengatakannya sambil memegang lengan kanan Jane untuk menghiburnya. Mau tidak mau Jane tersipu mendengarnya.
“Terima kasih. Oh ya kau mau diantar supir, maaf ya kami belum sempat mengajakmu berkeliling”
“Ah, tidak apa apa, aku bisa naik taksi. Sudah ya aku pergi dulu” Aya melambaikan tangannya. Jane  membalas lambaian itu.
“Dah. Hati hati”
Jane tersenyum melihat gadis muda nan ceria itu. Ia lalu masuk kedalam rumah dan membersihkan dirinya. Setelah selesai, Jane duduk di meja makan untuk sarapan. Sebenarnya ia tidak begitu berselera namun ia harus tetap sehat untuk bisa selalu disisi suaminya. Saat seorang pelayan tengah menghidangkan makanan, tiba tiba Jane mencium aroma yang khas. Bukan dari makanan diatas meja, melainkan dari seorang pria yang duduk dihadapannya sambil tersenyum manis. Aroma maskulin yang sangat kuat, hingga menggoda siapapaun untuk betah berlama lama didekatnya.
“Anda ingin makan sesuatu Tuan?” tanya pelayan itu mengalihkan perhatian Niel. Tatapan tajam itu cukup untuk meruntuhkan nyali siapapun. Pelayan itu tergagap, merutuki dirinya sendiri jika harus mendapat amukan dari Niel untuk yang kedua kalinya. Tapi nyatanya, Niel justru menanggapinya dengan sopan.
“Tentu saja, aku juga ingin makanan yang sama. Oh ya, bisa tolong ambilkan buah juga”
“B_baik Tuan”. pelayan itu lalu pergi sambil mengelus elus dadanya, menghembuskan napas lega
“Kau terlihat sangat berbeda hari ini” Jane membuka percakapan.
“Benarkah, kau juga sama” Jane tertawa, entah bagian mana dari omongan Niel yang terdengar lucu. Niel ikut tersenyum.
“Apa aku terlihat lucu”
“Ya”
“Kalau begitu tertawalah sepuasnya sebab kau gadis beruntung yang bertemu pria tampan dan lucu sepertiku” Jane semakin mengeraskan tawanya.
Sarapan untuk Niel telah datang lengkap dengan seranjang Buah buahan segar. Persis seperti yang Niel inginkan. Melihat Jane tertawa, membuat pelayan itu keheranan. Mungkinkah Pria dingin dihadapannya ini bisa mengatakan kata kata manis bahkan melucu? Oh tidak mugkin, batin pelayan itu. jika Aya juga berada disana, ia pasti akan berpikiran hal yang sama. Bahkan cemburu, cemburu sebab Niel tidak pernah memperlakukannya seperti yang ia lakukan terhadap Jane. Beruntung ia tidak melihat pemandangan itu, sebab ia sedang dalam perjalanan ke suatu tempat yang jauh.
# # #
Aya mendongakkan wajahnya, mengamati sebuah papan besar yang bertuliskan “Panti Asuhan”. Pandangannya teralihkan oleh suara anak anak yang sedang bermain. aya ikut tesenyum bersama mereka sambil mencubit pipi setiap anak yang berpapasan dengannya. Anak anak itu hanya membalasnya dengan tertawa. Akhirnya ia memasuki bangunan itu, seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkannya duduk.
“Ada yang bisa saya bantu Nona?”
“Saya butuh informasi tentang seorang anak yang pernah tinggal disini, namanya Niel” sahut Aya langsung pada pokok bahasan.
“Niel, apa maksud Nona adalah Daniel”
“Ya, bagaimana Anda dapat mengetahuinya dengan cepat tanpa harus membuka buku”. Wanita itu tersenyum mendengar kicauan Aya.
Sebab Daniel adalah anak yang istimewa Nona, walaupun dia sudah lama tidak tinggal disini tapi dia selalu menyempatkan diri kemari dan dia juga sangat baik”
“Jika saya sering berkunjung kemari, apakah anda juga akan mengingat namaku Nyonya?. Wanita itu menyernyitkan dahinya dan tersenyum.“Kenalkan nama saya Cahaya, panggil saja Aya” lanjut Aya sambil mengulurkan tangannya.
“Panggil saja Nyonya Liu dan aku akan berusaha mengingat namamu” sahut wanita itu sambil tersenyum menyambut uluran tangan Aya. Perkenalan singkat itu sangat berkesan baginya, juga bagi Aya.
Setelah itu, Nyonya Liu mengajak Aya ke sebuah kamar yang dipenuhi Anak anak yang sibuk membaca. Ada banyak rak buku disana dan pintu ruangan itu bertuliskan ‘Perpustakaan’. Aya mengikuti Nyonya Liu duduk dilantai bersama Anak anak itu.
“Kau lihat semua Buku buku disini, sebagian besar Niel yang membelinya” manik Berlian Hitam itu reflek mengamati setiap Buku yang tersebar diruangan itu. Kebanyakan adalah cerita dongeng.
“Dari kecil, Niel sangat menyukai cerita dongeng dan dia pernah bercerita bahwa ia hanya punya satu buku cerita. Ibunya selalu membacakan buku cerita yang sama setiap malam dan Niel tak pernah bosan mendengarnya. Suatu hari dia pernah bilang padaku, jika suatu hari nanti ia punya uang. Ia akan membeli semua buku yang ada dikota ini untuk dibacanya bersama teman temanya dan sekarang keinginannya telah terkabul”. Aya tersenyum, tidak menyangka jika Niel punya impian yang sangat mulia. Sekarang Aya tahu sisi lain dari Niel yang mungkin tidak pernah diketahui orang lain. Walaupun sampai sekarang dia tidak tahu alasan apa yang membuat Niel selalu menjauhinya.
“Dan kau juga melihat ruangan didepan sana” tunjuk Nyonya Liu, mengarahkan telunjuknya ke pintu yang bertuliskan ‘Ruang Bermain’. “Niel yang punya ide untuk menyediakan ruang itu, agar semua anak dapat berkumpul untuk bermain bersama sama. Dia juga bercerita bahwa dia tidak pernah punya teman untuk bermain, apalagi mainannya. Satu satunya temannya adalah ibunya”. Aya tertegun mengingat apa yang diceritakan Chand padanya beberapa hari yang lalu, sebelum pria bermata indah itu terbaring koma saat ini. Tiba tiba Aya menyadari sesuatu, tentang ketakutan Chand terhadap Niel. Inikah alasan Niel yang sesungguhnya, untuk memberi pelajaran terhadap Chand atas sikapnya dulu.
Aya menghembuskan napasnya untuk menenangkan pikirannya. Nyonya Liu beranjak untuk membuatkannya minum, Aya mencegahnya karna takut merepotkan. Nyonya Liu tersenyum sambil mengedipkan matanya pertanda tidak masalah. Aya kembali mengamati buku buku didepannya dan ada satu Buku yang menarik perhatiannya.
“Melati yang Bersinar” ucap Aya membaca judul Buku itu. Kemudian ia membukanya, nampaklah gambar seorang perempuan yang menjadi tokoh utama dalam cerita itu yang sukses membuat Aya tak berkedip melihatnya.
“Ibu!” teriaknya tak percaya. Ia lalu membolak balik Buku itu, mencari tahu siapa pengarangnya. Akhirnya ia menemukannya.
“C. Sinensis” Aya mengerutkan keningnya, membaca nama asing yang tak dikenalnya. Ia membuka lagi halaman kedua, diceritakan bahwa perempuan yang bernama Melati itu tinggal didekat sebuah perkebunan Teh yang luas. Baru saja ia akan membalik halaman selanjutnya, ponsel Aya berbunyi. Dari Nyonya Cho.
“Aya, Chand sudah sadar!” ucap Nyonya Cho dengan bibir bergetar. Mengetahuinya, Aya tak henti hentinya mengucap syukur pada Tuhan.
“Apa kau sedang di rumah sekarang. Aku berusaha menghubungi Jane tapi ponselnya tidak aktif”
“Kebetulan aku sedang diluar Tante. Tadi memang aku bertemu dengannya, atau mungkin dia sedang tidur. Kalau begitu aku akan pulang sekarang untuk memberi tahu kabar baik ini”
“Baguslah,, terima kasih banyak Aya”
“Sama sama Tante”. Aya memutus sambungan Teleponnya, lalu beranjak dari duduknya. Nyonya Liu yang kembali sambil membawa minuman kaget melihat Aya yang sepertinya tergesa gesa.
“Ada apa Aya?”
“Maaf Nyonya, saya ada urusan mendadak dan harus kembali”
“Baiklah tapi sebelum pergi, minumlah dahulu” Aya kembali ke posisinya lalu menerima gelas beserta cangkirnya dari tangan Nyonya Liu dan menyeruputnya perlahan, terus menerus hingga tanpa sisa.
“Terima kasih Nyonya” ucapnya sambil meletakkan cangkirnya diatas meja lalu berpaling kearah Anak anak yang masih sibuk membaca. “Anak anak Kak Aya pulang dulu ya. Maaf belum bisa menemani kalian bermain, besok Kakak akan datang lagi. Dadah!” Aya melambaikan tangannya, walaupun belum mengenal Aya namun Anak anak itu dengan semangat membalas lambaiaannya.
“Nyonya Liu yang baik hati, saya pamit ya” ucap Aya sambil mengulurkan tangan. Nyonya Cho paham, iapun mengulurkan tangannya dan terkejut dengan perlakuan Aya yang justru mencium tangan itu.
“Ini adat dari Negeri saya, semoga Nyonya terbiasa” Nyonya Liu tersenyum mengerti. Aya membuka tasnya kemudian menyerahkan sesuatu ditangan wanita itu. “Sedikit dari saya, semoga bermanfaat”. Nyonya Liu kembali terkejut kemudian tersenyum senang, menyadari begitu baiknya gadis dihadapannya ini.
# # #
“Terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan demi Chand dan maaf , aku sudah membentakmu dihari itu. Aku merasa bersalah”
“Tidak masalah, aku bahkan sudah lupa kau pernah memarahiku”
“Benarkah?”
“Hmm,,. Melihat senyummu saja dapat menghilangkan sebagian ingatanku”. Jane tertegun, menatap mata tajam itu tak percaya. “Sudah 22 tahun aku meninggalkan rumah ini, semua terasa sangat berbeda saat aku tidak menemukan ibuku lagi. Tapi, aku menemukan seseorang yang selalu membuatku nyaman didekatnya. Kedamaian yang sama, seperti bersama ibuku”
“Ibumu, kau pasti sangat merindukannya” sahut Jane.
“Orang itu adalah kau”
Jane tak berkutik. Dadanya tiba tiba sesak mendengar kalimat itu.
“Aku tahu kau terkejut” Niel mengalihkan perhatiannya dengan melempar segenggam makanan ikan ke kolam. Semua ikan berebut, menimbulkan bunyi air yang riuh. “Aku tidak keberatan jika Ibu meninggalkanku kembali ke Negerinya karna aku masih bisa menemuinya kapanpun. Tapi nyatanya, dia justru kembali pada Tuhan. Bagaimana caranya dia tahu kalau aku merindukannya. Aku, tidak bisa menemuinya”
Jane melihat wajah sendu itu, untuk pertama kalinya. Wajah yang dingin itu tiba tiba mencair mengingat Ibunya.
“Aku sangat kesepian” lanjut Niel. Jane tidak tega melihatnya.
“Apa yang bisa kulakukan untukmu” hibur Jane
“Peluk aku”
Jane terkejut. Haruskah ia menyanggupi permintaan konyol itu. Tapi bagi Niel, hal konyol itu sangatlah berarti. Hatinya bimbang menentukan sikap. Apa yang harus aku lakukan, gumam Jane dalam hati.
“Ku mohon, sekali saja. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku tidak hidup sendiri di dunia ini”
Jane luluh. Ia mendekatkan tubuhnya lalu memeluk pria malang itu. Airmatanya meleleh, entah karna Niel atau justru karna rasa bersalahnya terhadap Chand. Tidak semestinya ia melakukan hal bodoh ini disaat suaminya sedang sakit. Jane sudah ingin melepas pelukannya, namun Niel masih menahannya.
Niel menajamkan pendengarannya, gendang telinganya menangkap suara derap langkah kaki yang menuju kearahnya. Ia tersenyum licik.
“Aku merindukanmu. Tidak melihatmu 2 hari ini sangat membuatku tersiksa” Niel mengucapnya dengan lantang dan menyakinkan. “Aku tidak menuntut apapun darimu, aku hanya ingin selalu melihatmu. Itu saja” . akhirnya Niel melepaskan pelukan itu. Jane menatapnya, dengan tatapan yang lagi lagi tak percaya. Niel tersenyum menenangkannya, lalu menyentuh pipi Jane dengan sebelah tangannya. “Terima kasih” ucapnya.
Niel bersorak dalam hatinya, mendengar langkah kaki yang menuju kearahnya kini berbalik.

Bersambung ke Bagian 4,,,